Minggu, 25 November 2018

Pohon Di Depan Rumah

Kami memiliki pohon besar di depan rumah, yang unik dari pohon ini adalah kami tidak pernah melihat pohon jenis ini dimanapun kecuali tempat-tempat tertentu misalnya di Kebun Raya. Keuinikan lainnya dari pohon ini adalah ketika meranggas, daunnya berguguran dalam satu waktu hingga daun yang lama habis dan pohon terlihat gundul. Setelah itu dalam waktu 2 - 3 hari, daunnya kembali muncul menjadi daun baru. Anak-anakku suka bermain diatas tumpukan dedaunan yang berguguran, layaknya menemukan harta karun yang tidak dapat ditemui setiap saat. Ketika masa daun pohon ini gugur tiba, kami sekeluarga akan keluar di pagi hari menuju halaman dan menyapu bersama-sama sekalian mengawasi anak-anakku bermain daun.

Kondisi daun ketika meranggas
(Sumber : koleksi pribadi)

Setelah 7 tahun kami tinggal di rumah dinas sebuah instansi swasta/semi pemerintah/stsatus yang membingungkan (heheheeee), barulah timbul rasa penasaran akan pohon ini. Selain karena daunnya yang mudah rontok dan penghasil sampah terbesar di halaman depan rumah kami, dan lain halnya kami jarang menemui pohon tersebut. Menurut informasi dari tetangga ketika kami menanyakan jenis pohon depan rumah kami, meraka menyebutkan bahwa pohon tersebut merupakan pohon bawaan dari belanda, yang notabene rumah dinas kami adalah rumah peninggalan jaman belanda. Mereka juga mengatakan bahwa pohon tersebut adalah pohon langka.

Tak selang beberapa lama, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kami. Ketika kami membuka pintu, seseorang yang tidak kami kenal langsung mengucap salam dan menanyakan perihal pohon kami. Dia mengungkapkan keinginannya untuk membeli pohon tersebut dengan cara mencabut pohon besar itu secara hidup. Sontak kami menolak tawaran tersebut, mengingat rumah kami adalah rumah dinas, dimana seluruh properti adalah milik instansi.

Dari tawaran pembelian pohon tersebut kami pun makin penasaran akan pohon itu. Kami browsing berusaha mencari nama pohon itu, berdasarkan dari deskripsi pohon besar yang memiliki bunga menggantung dan buah lonjong yang menggantung.

Contoh buahnya (sumber : internet)

Contoh bunganya (sumber internet)

Setelah kami mencocokkan deskripsi pohon tersebut, dan melihat masing-masing gambar buah dan bunganya yang memiliki kecocokan. Maka kami pun memperoleh nama pohon tersebut adalah Kingelia Africana (Lam.) Benth. Dan kami juga kaget melihat informasi bahwa pohon tersebut memiliki banyak manfaat antara lain : Kulit dan akar pohon bermanfaat untuk mengobati bisul; ekstrak buah berguna sebagai salep kulit dan produk kecantikan; buah mempunyai sifat antibakteri; anti jamur; sebagai obat sakit kanker; sebagai obat antioksidan dan kesuburan pada laki-laki; sebagai obat analgesik dan Anti inflamasi serta sebagai obat penyakit malaria, antiprotozoal, diare. 

Berikut adalah contoh pohon Kingelia Africana (Lam.) Benth. Karena kami tidak memiliki kamera yang layak untuk mendokumentasikan pohon tersebut. Selain itu pohon kami tersebut tegolong masih berusia belia, mengingat ukurannya yang belum terlalu besar dan kanopinya belum terlalu lebar. Sehingga lebih menarik jika kami tampilkan contoh pohonnya yang berbentuk besar.

Sumber : internet


-Mama Z "the Wicaksono's"-

Kamis, 22 November 2018

Full Mom is the Wonderfull Journey

Sebelum menikah aku tidak pernah berfikir akan menjadi full mom yang notabene mengurusi segala keperluan rumah, berada di rumah dan sedikit berinteraksi dengan dunia luar. Ketika masih sigle, aku seorang pekerja kantoran dan aku menikmati pekerjaanku. Namun disaat suami meminangku dan meminta untuk menjadi seorang IRT, aku memutuskan untuk mengikutinya.


Maha Besar Allah yang mengatur alam semesta beserta isinya. Ternyata menjadi full mom dengan 2 anak cowok adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Mereka adalah kebahagiaanku, mereka adalah penghilang stressku, mereka adalah asistenku. Kenapa aku bilang mereka adalah asistenku? karena selain menjadi IRT, aku juga bekerja di rumah sebagai konsultan lingkungan. Ketika aku bekerja dan harus keluar rumah untuk menyelesaikan pekerjaanku, aku ajak mereka kemana aja untuk menemaniku, Ke pabrik, kantor perijinan, ketemu klien, ke kantor dinas pemerintah, aku selalu mengajak mereka. Dan tentu dengan mengkodisikan, yaitu ketika bertemu klien atau ke kantor dinas pemerintah yang membutuhkan sikap profesionalitas maka aku ajak kakek neneknya untuk menemani mereka di mobil atau play area, sembari menungguku menyelesaikan pekerjaanku.

Aku tidak pernah meninggalkan mereka dalam waktu yang lama, aku ajak mereka kemana saja dan/atau mengajak kakek neneknya sebagai penjaga di lokasi yang tak jauh dari tempat yang aku tinggalkan, agar aku dapat sesegera mungkin menemui mereka kembali. Aku tidak suka pengasuh karena aku ingin memberi pengalaman sebanyak-banyaknya kepada mereka, dan aku menganggap keluargaku adalah sebuah perjalanan dimana kita sendiri yang menentukan petualangannya. Aku ingin membuat petualangan yang indah dan menyenangkan bersama mereka. Aku ingin mereka menikmati masa kecilnya dan membuat memori yang indah tentang keluarganya.

Teringat kala itu aku mengajak mereka ke kantor UPTSA Surabaya di gedung Siola untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kala itu aku mencari supir untuk mengantarkanku ke Surabaya, namun supir tersebut berhalangan. Akhirya aku mengajak tetanggaku yang kebetulan anaknya adalah teman anakku sekolah, dan aku mengajaknya bersama 2 anaknya untuk menemaniku beserta 2 anakku. Tiba di Kantor UPTSA Surabaya aku mengajak rombonganku ikut masuk ke dalam, karena ruangan tersebut luas dan siapapun bebas masuk kedalamnya. Aku tidak pernah malu ataupun canggung mengajak rombongan anak-anak mengikutiku kemana saja, bahkan aku persilahkan tetanggaku yang ingin menyuapi makan anaknya di dalam ruangan tersebut.

Diwaktu yang lain aku masih harus kembali ke kantor UPTSA Surabaya. Namun aku memilih transportasi yang berbeda agar anakku tidak bosan menemaniku yang beberapa kali harus kembali kesana, sehingga aku harus membuat petualangan yang berbeda untuk mereka. Kala itu aku memilih mengajak mereka naik kereta, hal ini juga dengan alasan tidak ada yang menemaniku ke Surabaya. Sesampainya di kamtor UPTSA, ketika aku dipanggil ke loket, aku menyuruh mereka menunggu di kursi yang tidak jauh dariku dengan menyiapkan jajan untuk dimakan.Setelah aku selesai dengan pekerjaanku, aku ajak mereka naik bis kota Surabaya yang baru, karena anakku suka dengan tokoh animasi Bis Tayo. Tentu mereka tertarik dan bersemangat, namun ketika bis itu datang dan kami melambaikan tangan agar bis tersebut berhenti. Akan tetapi bis tersebut tidak mau berhenti dengan alasan kami tidak membawa botol bekas. Merekapun kecewa karena tidak bisa naik bis tokoh animasi "Tayo" versi mereka, dan mereka tidak faham syarat agar bisa naik bis tersebut adalah harus membawa botol bekas. Akhirnya aku alihkan rengekan mereka dengan mengajaknya naik angkot dengan alih-alih setelah naik angkot kita bisa naik kereta untuk kembali ke rumah. Mereka pun menyetujuinya dan menyelesaikan petualangan di hari itu dengan gembira. Meskipun sehari setelah petualangan di Surabaya, anak sulungku sakit cacar air, namun hari itu adalah momen yang indah.

Aku bersyukur memiliki mereka yang begitu istimewa bagiku. Mereka berdua memiliki karakter yang berbeda, namun mereka saling melengkapi dan saling menyayangi. Dan aku bersyukur telah memilih keputusan untuk menjadi full mom. Tak pernah kusangka jika menjadi seorang ibu bisa memilih bentuk petualangan apa yang ingin kita lalui, dan aku memilih untuk melalui setiap petualangan bersama mereka dan menjadikan petualangan itu sebuah memori yang indah.

"anakku, kalian adalah penyemangatku yang menuntunku melewati setiap rintangan yang menghadang, dan kalianlah yang membuat setiap petualangan itu menjadi lebih indah"




-Mama Z "the Wicaksono's"-

Perubahan Isi Materi Blog

Blog ini sebelumnya adalah berjudul Belajar Menulis yang aku tujukan untuk mengisi waktu luang dengan menulis. Namun seiring waktu dan padatnya aktivitas membuatku lupa dan tidak menyempatkan diri untuk berlatih menulis. Setelah lama vakum, saat ini keinginanku menulis muncul kembali. Saat ini judul blog aku ganti menjadi Jurnal Untuk Anakku dengan tujuan untuk merangkum perjalanan masa kecil anak-anakku untuk kelak mereka baca.

"anakku, seluruh waktuku adalah untuk kalian"

Rabu, 23 November 2011

EXPLORING MADURA

(sumber : pustaka.pu.go.id)

Madura, adalah sebuah pulau kecil disisi utara Surabaya, setelah dibangun jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan pulau Madura akses menuju kota-kota di Madura menjadi lebih mudah. Beberapa kali kami melintas ke Madura sekedar untuk melihat kehidupan masyarakat Madura, mengunjungi makam Mbah Kholil ataupun menikmati karya arsitektur jembatan penghubung antar pulau dengan panjang 5438 m yang merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.

Cerita dimulai dari kami, keluarga yang nekat untuk menjelajahi pulau Madura. Singkat cerita, setelah menuruni jembatan Suramadu disisi Madura, penjelajahan pulau ini dimulai dengan perjalanan jalur selatan. Sekilas sempat terpikir untuk mengurungkan niat perjalanan menuju ujung pulau Madura Pamekasan karena dalam benak kami Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung. Namun rasa penasaran kami akan keindahan yang tersimpan di pulau ini lebih besar sehingga perjalanan pun tetap berlanjut.

Diperlukan waktu kurang lebih 1 jam untuk melewati Kabupaten Bangkalan. Selanjutnya menuju Kabupaten Sampang, disuguhi pemandangan yang biru sepanjang perjalanan menuju laut Camplong. Kami semakin bersemangat untuk mencari pantai yang lebih indah di ujung barat pulau Madura. Kurang lebih 4 jam telah berlalu, kami sampai pada tempat yang dituju Kabupaten Sumenep, dari sini kami sering bertanya tentang arah. Maklum kami harus sering bertanya karena perjalanan kami merupakan perjalanan nekat, buta arah, tanpa peta dan GPS yang kami bawa pun tidak bisa menuntun arah kami di pulau Madura. Bukan karena kebetulan, di pertigaan lampu merah memasuki kota Sumenep, kami menemukan peta Kabupaten Sumenep yang terpampang sangat besar di sebuah papan layaknya sebuah reklame yang sengaja dipasang dengan tujuan menawarkan tempat wisata. Pada peta tersebut menunjukkan terdapat dua wisata pantai yang ada di Kabupaten Sumenep yaitu wisata pantai Lombang dan wisata pantai Slopeng.

Tanpa berfikir panjang kami langsung menuju lokasi wisata pantai Lombang. Dari kebiasaan kami yang kurang memperhitungkan keadaan dan berpikir lebih panjang, hingga sampai pada jalanan desa yang panjang dan bergeronjal kami baru sadar belum mengisi penuh bahan bakar mobil dan perut kami. Mengingat sensor volume bahan bakar mobil kami menunjukkan 3 strip dari skala 8 strip untuk ukuran penuh bahan bakar. Tapi kami tetap melanjutkan perjalan dengan sedikit ragu. Kira-kira satu jam dari kota Sumenep kami sampai pada pintu masuk wisata terlihat sepi, maklum karena kedatangan kami diiringi dengan tenggelamnya matahari. Beruntung kami langsung bertemu dengan kepala UPT wisata lombang, langsung kami manfaatkan untuk mencari informasi tempat penginapan. Nasib baik kami ditawari beliau untuk menginap di kantor administrasi mereka, karena di daerah tersebut tidak ada tempat penginapan resmi.

Sedikit berbincang-bincang dengan kepala UPT wisata Lombang untuk mengakrabkan diri dan mengenal lebih jauh pribadi orang madura. Semakin jauh perkenalan kami, penilaian kami adalah mereka “masyarakat Madura” sangat menghormati orang lain yang bersikap sopan kepada mereka, terlebih kepada orang lain(kami) yang memiliki kesamaan agama. Dimana masyarakat Madura sesungguhnya memiliki kebudanyaan yang sangat religius, menjunjung tinggi kehormatan dan nilai moral mereka. Dan rasa penasaran kami akan keindahan alam pantai tersebut memaksa kami untuk tinggal semalam menunggu kegelapan malam yang menyelimuti laut sirna oleh mentari pagi.

(Sumber : koleksi pribadi, 2011)

Waktu menunjukkan pukul 07.00 PM, kami pun memutuskan untuk berpamitan agar bisa beristirahat setelah lelah berkendara. Alarm HP berbunyi tetap pukul setengah lima dini hari, segera setelah kami selesai menunaikan sholat subuh, dengan tak sabar kami mempersiapkan sepeda lipat yang kami bawa selama perjalanan untuk ikut menikmati senja pagi dan menunggu matahari terbit dengan menyusuri tiap jengkal bibir pantai. Sebuah sensasi baru dalam bersepeda, dibandingkan dengan bersepeda diatas aspal mengendarai sepeda diatas pasir lebih menyenangkan meskipun membutuhkan kayuhan yang lebih bertenaga. Dari telapak kakiku saat mengayuh pedal aku, bisa merasakan sepedaku berginjal-ginjal riang diatas pasir dengan sesekali mempermainkan ombak yang datang.

(Sumber : koleksi pribadi, 2011)

Selang beberapa menit, mentari pun mulai menampakkan wajahnya yang semu merah, memendarkan siluet kemerahan di ufuk timur. Langit terlihat kontras dengan warna birunya dan lapisan tipis awan putih yang menggantung dibawahnya. Subhanallah dalam hening terucap kata menggambarkan ketakjubanku akan seni keindahan alam Mahakarya-Nya.

(Sumber : koleksi pribadi, 2011)

Semakin tinggi matahari terbit seolah menyingkap hijab yang menyelimuti keindahan pantai Lombang yang sesungguhnya. Teriknya sinar matahari memantulkan kilau samar tiap butiran pasir yang halus. Tiap langkah kaki yang terbenam di hamparan pasir terasa lembut pada telapak kaki. Deretan hijau pohon cemara setia menemani disepanjang jalur pantai Lombang, terlihat special pada hutan buatan di lokasi wisata pantai yaitu pohon bonsai dari cemara udang

(bersambung untuk perjalanan pulang jalur utara dengan pemandangan laut disepanjang perjalanan, masih capek mikirin kata-kata)
  

Senin, 20 September 2010

Nyanyian - nyanyian hujan

     Aku adalah benang perak yang dilempar para dewa dari ketinggian. Alam menangkapku dan menghiasi lembah-lembah.

     Aku adalah mutiara-mutiara indah dari mahkota Astarte. Anak perempuan di pagi hari mencuri mereka dan menaburkannya ke ladang.

     Aku menangis, dan bukit-bukit tersenyum. Aku merasa direndahkan, dan bunga-bunga memegang tinggi-tinggi kepala mereka. Awan dan ladang adalah sepasang kekaih, dan aku adalah pelayan siapa saja yang lewat di antara keduanya. Aku menangis dan menghilangkan dahaga seseorang dan menyembuhkan penyakit dari yang lain.

     Tumbukan antara halilintar dan pedang-pedang kilat mengabarkan kedatanganku. Pelangi adalah lengkungan kemenangan pada akhir perjalananku. Kehidupan duniawi bermula di bawah kaki unsur-unsur yang marah dan berakhir di tangan-tangan kematian yang penuh kedamaian.

     Aku bangkit dari hati telaga dan melayang tinggi dengan sayap-sayap lembut. Ketika kulihat sebuah taman indah, aku turun dan mencium mekarnya bunga dan memeluk cabang-cabangnya.

     Dalam kesunyian, aku mengetukkan jari-jemari halusku di kaca jendela, dan ketukan itu berpadu menjadi sebuah nyanyian yang mudah di mengerti oleh jiwa-jiwa yang peka.

     Aku diperanakkan oleh panasnya udara, namun aku membunuh panasnya udara itu. Jadi seorang wanita boleh menguasai lelaki dengan kekuatan yang dia peroleh dari lelaki itu.

     Aku adalah deru lautan. Aku adalah airmata langit. Akulah senyuman ladang. Aku adalah juga napas cinta dari lautan perasaan, airmata dari langit cinta, dan senyuman dari ladang jiwa.


- Kahlil Gibran, Orang-orang Tercinta -

Kamis, 29 Juli 2010

Aku sang hujan, dia sang pohon, dan kamu manusia

Aku adalah sang hujan yang memberi tetesan kasih sayang kehidupan, dan aku memiliki seorang kekasih di bumi. Kekasihku adalah pemberi nafas kehidupan, dia selalu menyejukkan setiap mata yang memandang dan memberi keteduhan saat kamu berlari mendatanginya dan meminta perlindungan dari sengatan terik matahari. Kehidupan kekasihku bahkan memberi warna di luasnya bumi. Kegagahannya yang selalu membuatku merindukannya.

Sang pohon adalah kekasihku, karena aku adalah pemberi kehidupannya. Tanpa kehadiranku dia tak akan tumbuh, dia akan layu dan perlahan mati dalam kerinduan. Aku yang selalu sabar memberinya kasih sayang agar hidupnya dapat memberikan manfaat untukmu. Karena dia yang memberimu nafas segar kebebasan, maka aku akan selalu setia merawat saat dahannya mulai rontok karena terpaan angin musim panas, karena aku takut kematiannya akan mempengaruhi hidupmu, melemahkan nafasmu.

Dan kamu manusia, adalah mahluk yang paling mulia di muka bumi, tugasmu adalah penjaga alam semesta. Kamu diberi kepintaran untuk mengatur isi alam, namun kamu menyalahgunakan untuk kepuasan perutmu yang gendut. Tak hanya dia, aku tahu kamu pun selalu merindukanku datang. Karena disaat musim tanam tiba, sebagian darimu berpesta dan membuat aneka persembahan menyambut kedatanganku.

Saat musim kemarau mengeringkan awan hitam, saat itu kutitipkan dia padamu agar selalu menjaganya, agar kamu selalu merawatnya dan memberinya kasih sayang. Namun saat aku lengah, kamu menghianatiku. Kamu tega membinasakannya dari tempatnya berpijak. Perbuatanmu membuatku sangat sedih karena menyakiti kekasihku, membuatku menangis tersedu, tak ada hentinya air mataku mengalir deras atas kekecewaanku padamu, atas hilangnya kekasihku. Tak ada hentinya air mataku berlinang meratapi penghianatanmu padaku, karena telah kamu renggut jiwa kekasihku. Ketika datang bencana bersama dengan kesedihanku, kamu tetap menyalahkanku hingga kamu memohon kepada Tuhanmu untuk menghentikan tangisanku. Sekalipun kamu membenci bencana itu, tetapi kamu takkan bisa hidup tanpa aku, tanpa aku tak ada lagi yang mengairi ladangmu, tak ada lagi yang mengisi sumurmu, dan tak ada lagi yang dapat memuaskan dahagamu. Dan kamu pun takkan bisa hidup tanpannya, tanpa dia kamu takkan bisa bernafas bebas karena kamu telah meracuni nafasmu sendiri dengan asap-asap yang tebal. Andai aku tak lagi datang, andai dia tak lagi tumbuh, maka kehidupanmu pastilah musnah. Sayangilah kekasihku, maka aku pun menyangimu.